Rabu, 27 Agustus 2014

Kepada Senja yang tak pernah gelap...




Masih terjaga, dan kurasakan hatiku gerimis di sana. Basah oleh kesedihan yang entah darimana datangnya.
Ada begitu banyak perasaan yang sulit kucegah, merongrongku dengan gelisah yang tak hilang jua.
Aku ini kenapa? Mungkin karena kilau permata telah membuatku buta? Tidak. Tidak pernah sekali pun….
Aku ingin pergi, dari semua semu yang kualami.
Rabb.. adakah senja yang tak pernah gulita? Yang jingganya tetap bertahan tak jenuh-jenuh menemani riak ombak.
Aku ingin kesana, membalut sunyiku yang mulai terusik.
Hanya ingin terlelap sebentar dan bermimpi bahwa semuanya baik-baik saja.
Meski setelah ku kembali terjaga, sakitku makin bertambah menyadari semuanya adalah maya.
Isakku yang tak pernah kau dengar dengan cermat, bisakah sedikit lega setelah aku memelukmu?
Tapi aku seorang saja disini. Sendiri mempelajari artiku. Mengapa dan bagaimana terus bergantian memburuku…
Rabb, aku ingin kesana. Kepada senja yang tak pernah gulita. Merasakan sejuknya untuk hatiku yang membara.
Rabbi…

Rabu, 02 Juli 2014

Menentukan Pendirian

#IndonesiaMilikAllah | Menentukan Pendirian

Al-Islam edisi 713
6 Ramadhan 1435 H - 4 Juli 2014 M

Setiap orang muslim, harus menentukan pendirian dan sikapnya atas sesuatu atau perbuatan, diambil atau tidak, dilakukan atau tidak. Seringkali seorang muslim harus menentukan pilihannya diantara apa yang ada atau pilihan yang ada di hadapannya. Hal demikan selalu terjadi dalam berbagai perkara, besar atau kecil, persoalan individu, keluarga atau kemasyarakatan; tak terkecuali masalah pemilihan presiden dan wakil presiden.

Pendirian Berdasar Pengetahuan

Islam memerintahkan agar kita menentukan pendirian di atas pengetahuan. Allah berfirman:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(TQS al-Isra’ [17]: 36)

Imam asy-Syaukani menjelaskan, “makna ayat tersebut adalah larangan orang mengatakan apa yang tidak dia ketahui atau melakukan apa yang dia tidak memiliki pengetahuan tentangnya…” (asy-Syawkani, Fath al-Qadîr, tafsir ayat tersebut). Karena itu,agar pendirian dan sikap itu dibangun di atas pengetahuan, Allah SWT memerintahkan untuk bertanya kepada orang yang berilmu jika kita tidak mengetahui (QS al-Anbiya’ [21]: 7 dan an-Nahl [16]: 43).

Pengetahuan yang dijadikan dasar menentukan pendirian itu setidaknya adalah pengetahuan tentang hukum syariah yang berkaitan dengan masalah tersebut dan pengetahuan tentang fakta masalah tersebut. Ini yang setidaknya harus dijadikan dasar menentukan pendirian atas berbagai perkara termasuk untuk menentukan pendirian dalam hal pemilihan presiden.

Memilih Pemimpin Berdasar Pengetahuan

Sekadar mengingatkan kembali, bahwa hukum mengangkat penguasa itu berkaitan dengan dua perkara: perkara yang berkaitan dengan karakteristik dan kondisi penguasa; dan perkara yang berkaitan dengan sistem aturan yang akan diterapkannya.

Mengenai personnya, maka dia harus memenuhi tujuh syarat: Islam, laki-laki, baligh, berakal, merdeka lawan dari perbudakan, memiliki keadilan lawan dari kefasikan, dan kemampuan memikul tugas-tugas dan tanggungjawab kepala negara. Jika ia tidak memiliki salah satu syarat ini, maka dalam pandangan hukum-hukum syariah, person tersebut tidak layak menjadi kepala negara.

Sedangkan mengenai sistem aturan, maka kepala negara itu wajib menerapkan sistem Islam dan hukum-hukum Islam seluruhnya. Sebab itu adalah tugas seorang kepala negara dalam Islam. Siapa saja yang meminta dipilih menjadi kepala negara, ia wajib menegaskan kepada masyarakat bahwa ia akan menerapkan syariah Allah secara keseluruhan. Jika ia secara terbuka dan terang-terangan menjanjikan penerapan hukum-hukum Islam, maka boleh memilihnya. Dan diantara hukum Islam yang wajib diimplementasikannya adalah pendeklarasian sistem al-Khilafah, penyatuan negeri-negeri kaum Muslimin di bawah daulah al-Khilafah, pembebasan negeri-negeri kaum Muslimin dari penjajahan dan pengaruh kaum kafir dalam segala aspek kehidupan, dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

Sementara mengenai fakta masalah, hingga saat ini belum ada satupun calon yang menyatakan secara terbuka dan terang-terangan berjanji jika terpilih nanti akan menerapkan syariah Islam secara keseluruhan. Jika pun ada yang mengatakan akan menerpakan syariah Islam, itupun tidak diucapkan langsung oleh para calon itu, melainkan oleh timnya atau oleh pendukungnya. Itupun tidak dinyatakan secara terbuka dan terang-terangan melainkan lebih terkesan secara malu-malu, dan ketika didesak. Seolah-olah hanya untuk merengkuh suara kaum Muslimin yang ingin syariah agamanya diterapkan. Jika faktanya demikian, tentu kita bisa menentukan pendirian sendiri sesuai dengan tuntunan Islam dalam memilih kepala negara di atas.

Allah SWT telah memerintahkan kita terutama kepada kepala negara untuk menerapkan hukum-hukum Islam. Selain itu Allah juga mengingatkan, bahwa siapa saja yang memutuskan perkara atau menghukumi dan memerintah dengan selain apa yang telah Allah turunkan, maka dia adalah seorang yang zalim (QS al-Maidah [5]: 45), fasik (QS al-Maidah [5]: 47). Bahkan Allah menilainya sebagai orang yang kafir (QS al-Maidah [5]: 44) jika hal itu dilakukan karena mengingkari Islam dan menganggap Islam itu tidak layak untuk memutuskan perkara.

Jika jelas-jelas pemimpin nantinya belum ada yang berjanji akan memutuskan perkara sesuai hukum Islam, dan justru telah berkali-kali ditegaskan akan melanjutkan sistem aturan buatan manusia yang ada, bukan aturan yang telah Allah turunkan, bagaimana mungkin seorang Muslim di bulan Ramadhan yang sarat dengan nilai-nilai ketakwaan ini diminta untuk memilih dan menjadikan pemimpin seperti itu? Bukankah memilih dan mengangkatnya di hadapan Allah kelak, sama saja dengan memilih dan menjadikan orang memiliki satu dair ketiga status di atas? Na’udzu billah min dzalika.

Mendudukkan Baik Buruk dan Manfaat

Boleh jadi seseorang menentukan pilihan didasarkan pada rasa suka atau tidak suka; atau pertimbangan baik-buruk, terpuji atau tercela menurut pendapatnya. Bagi seorang muslim hal semacam ini tidak boleh. Penilian tersebut harus mengikuti penilaian syara’. Sebab Allah mengingatkan bahwa kadang manusia menyukai sesuatu dan menilainya baik padahal hakikatnya adalah buruk. Allah mengingatkan:

﴿وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(TQS al-BAqarah [2]: 216)

Dari ayat ini bisa dipahami bahwa pada hakikatnya yang baik untuk manusia itu adalah apa saja yang disukai Allah, atau diridhai Allah. Sebaliknya, hakikatnya yang buruk bagi manusia itu adalah apa saja yang tidak disukai atau dibenci oleh Allah. Imam ath-Thabari menegaskan ketika menjelaskan QS al-Baqarah [2]: 110, “al-khayr adalah perbuatan yang diridhai Allah” (ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari).

Begitu pula penilaian suatu perbuatan sebagai terpuji atau tercela juga harus mengikuti syara’. Abu Bakar al-Baqilani di dalam al-inshâf menyatakan, “semua kaedah-kaedah syara’ menunjukkan bahwa al-hasan (yang terpuji) adalah apa dipuji oleh syara’ dan dibolehkannya; sedangkan al-qabîh (yang tercela) adalah apa yang dicela oleh syara’, diharamkan dan dilarangnya.”

Kadang orang menentukan pilihan mengikuti manfaat yang dipandangnya ada pada apa yang dipilih. Ayat di atas juga memberikan pengertian bahwa penilaian akan manfaat yang hakiki harus mengikuti penilaian syariah. Apa yang diridhai Allah adalah baik bagi manusia, artinya memberikan manfaat bagi manusia. Sebaliknya, apa yang dibenci Allah yakni dilarang oleh syariah, maka itu buruk bagi manusia, artinya mendatangkan madarat. Karena itu, manfaat hakiki itu sebenarnya adalah taat kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Itulah yang dicontohkan oleh para sahabat. Rafi’ bin Khadij berkata bahwa salah seorang pamannya menuturkan:

«نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَمْرٍ كَانَ لَنَا نَافِعًا وَطَوَاعِيَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ أَنْفَعُ لَنَا… »

“Rasulullah saw melarang kita dari perkara yang dahulu bermanfaat untuk kami, tetapi taat kepada Allah dan Rasul-Nya lebih bermanfaat bagi kami…” (HR Muslim)

Juga boleh jadi, orang menentukan pendirian karena mengikuti seseorang dengan anggapan kalaupun keliru maka dosanya ditanggung oleh pemimpin atau orang yang diikuti itu. Padahal di akhirat nanti tidak demikian. Setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri-sendiri, meski pemimpin dan orang yang diikuti itu tanggungjawabnya tentu lebih besar. Allah menyatakan:

﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ﴾

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.”(TQS al-Baqarah [2]: 166)

Maka orang yang diikuti itu haruslah orang yang berpendapat berdasarkan keilmuan, ketakwaan, dan kesalehannya, sehingga menempatkan tuntutan syariah sebagai yang terdepan, bukan mengikuti penilaian-penilaan dunia.

Wahai Kaum Muslimin

Islam telah memberikan tuntunan yang jelas tentang pemilihan pemimpin. Semua berpulang kepada kita semua. Apakah tuntutan syariah itu dijadikan pegangan atau sebaliknya diabaikan. Namun harus diingat semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah termasuk dampak dari perbuatan dan pilihan kita.

﴿إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ﴾

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).”(TQS Yasin [36]: 12)

Dan pada hari itu semua hal akan diungkap dengan sebenarnya, kita tidak bisa mengelak.

﴿الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”(TQS Yasin [36]: 65)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk menentukan piliah hanya mengikuti tuntutannya sehingga membuat Allah dan Rasul-Nya ridha dan dengan begitu kita akan selamat di akhirat kelak. Wallâh a’lam bi ash-shawâb.[]

Selasa, 17 Juni 2014

Muhasabah!



Seperti hendak meledak. Beragam hal membuat depresi beberapa pekan ini. Puncaknya adalah hari ini, mungkin. Asam di lambung semakin terdorong oleh kalut yang memenuhi hipotalamus. Mual.
Selalu begitu tiap kali merasa stress. Banyak hal yang menunggu untuk diselesaikan. Tugas-tugas kuliah, laporan praktikum yang banyaknya tidak tanggung-tanggung, urusan pindah sekolahnya adik dari Banjarmasin ke Makassar yang belum juga “tersentuh”, adik-adik di perhalqohan yang harus selalu di-ri’ayah, amanah-amanah dakwah yang tak boleh dilalaikan, aqod-aqod yang belum tertunaikan. Semuanya bersatu padu ketika kondisi tubuh sedang buruk. Hingga akhirnya benar-benar drop. Sakit. Akhirnya semuanya justru terbengkalai. Duh, Gusti.

Mumet. Benar-benar pusing. Tak tahu harus bagaimana mengatasi semuanya satu persatu. manajemen waktu menjadi buruk. Jika kondisinya sudah seperti ini, bawaannya pengen pulang ke kampung halaman, ke rumah. Dimana disana ada Ibu untukku bermanja dan berkeluh kesah. Ibu yang akan menyemangatiku dengan pelukannya. Namun keadaan belum memungkinkan untuk pulang. Final test bahkan belum terlaksana. Maka yang dibutuhkan saat ini adalah kesabaran dan kekuatan. Allah, tolonglah…

Rasa bersalah pada diri sendiri muncul entah darimana. Semangat yang mestinya menjadi kawan setia, menghilang entah kemana. Berbagai macam problem pribadi membuatku menjadi sering mengeluh. Selalu berandai-andai yang tidak jelas. Bahkan pernah terbesit dalam hati rasa putus asa. Ingin menghentikan semuanya. Kuliah, dakwah, halaqoh. Astaghfirullaahal’azhiim. Sekuat hati kutepis godaan syaithan itu. Anehnya, seorang karib menyarankan padaku (yang entah serius atau bercanda) agar menikah saja. haha. Seperti menikah itu mudah saja, tak mengandung masalah, hanya bahagia yang dirasa. Huh, padahal kan pasti tidak sesederhana itu. Mengurus diri sendiri saja belum becus, gimana mau mengurus “anak orang”? Begitu fikirku. Soal menikah, aku punya target sendiri tentang hal itu. Yang pasti, saat ini yang menjadi focus utama adalah memantaskan diri. Bukan hanya untuk menikah, tapi juga untuk seluruh persoalan. Membenahi kuliah yang semester ini begitu kacau berantakan, membenahi manajemen waktu agar amanah-amanah tidak lagi terlalaikan, menunaikan janji yang tak mungkin dibatalkan, menjaga hati dari segala pikiran-pikiran buruk, dan tentu saja, memperbaiki hubungan dengan sesama yang kusadari sedikit “bermasalah” belakangan ini. Huffhh..

Muhasabah. Ada apa dengan diri ini? Seperti ada yang “error”. Yup.. Kusadari belakangan ini banyak “maksiat” yang terjadi. Mungkin itu yang menjadi penyebab “teguran” (atau mungkin “hukuman”?) datang menghampiri. Astaghfirullaahal’azhiim. Maksiat-maksiat yang boleh jadi kusadari atau tidak kusadari. Allah Maha Sayang dan Maha Lembut. Aku percaya, gelisah dan rasa sumpek di hatiku ini adalah caranya mengajakku kembali. Bukankah telah begitu sering, kita merasa begitu rindu pada Allah saat masalah demi masalah menimpa kita? Ya, kufikir begitu.

Allah. Apa yang dikatakan Rasulullaah memang tak ada yang salah, termasuk sabda beliau Shalallaahu ‘alayhi wa sallam..
Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan dosa selalu mendatangkan kegelisahan.” (HR. Al-Hakim)
"Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik. Dan dosa adalah apa yang tersimpul di dalam diri engkau dan engkau benci jika ia diketahui manusia mengenainya.”(HR. Muslim )
Astaghfirullaahal’azhiim, yaa Rabb..
Introspeksi diri. Semoga bisa berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Seseorang yang kusayangi berpesan padaku: “Re, rere harus sehat. Ummat butuh da’I yang kuat dan sehat. Bukan yang sakit-sakitan. Jangan makan mie instant, jangan minum ultramilk dan teh kotak.” Kurang lebih seperti itu pesannya. Lho, kok pesannya malah tentang kesehatan? Nyambung dimana? Nggak tau. Pokoknya nyambung aja. Hehe. Juga pesannya agar: ISTIQOMAH!

Okewell, DON’T EVER GIVE UP! Masalah itu untuk dihadapi dan diselesaikan. bukan didiamkan!
Bismillaah, yaa Rahman yaa Ghaffaar. Tolonglah, dan ampunilah hamba..
Aamiin.

TODAY MUST BETTER THAN YESTERDAY, AND TOMORROW MUST BETTER THAN TODAY!!!

Kamis, 12 Juni 2014



Bagaimana rasanya menjadi Abu Hudhaifah, yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ayahnya mati terbunuh dalam keadaan musyrik pada perang Badar, the first battle bagi kaum Muslimin. Sedih pasti, orang yang bertalikan darah dengan kita, justru memusuhi dan memerangi kita karena risalah yang kita emban. Namun demi kebenaran, perasaan tak lagi dikedepankan. Begitulah dakwah, begitulah perjuangan, begitulah iman. Akan senantiasa ada yang menentang, bahkan jika itu adalah ayah atau ibu kandung sendiri. Tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan pertolongan ALLAH. Sungguh, tak ada yang lebih berat untuk dikorbankan di jalan-NYA melebihi perasaan. Namun tatkala syari’at telah menjadi dasar segala-galanya, maka tak ada lagi ruang untuk bersempit hati. Rongga dada musti lapang untuk menjalankan titah-NYA, sekali pun harus bertentangan dengan kehendak manusia seluruhnya.
Kita hanya bisa berharap, semoga jiwa dan ‘aqal senantiasa berada dalam kebenaran dan keikhlasan. Ikhlas tanpa penawaran untuk diberi sedikit saja keringanan dalam berjuang. Karena kesadaran dan keyakinan sepenuh hati, bahwa sesungguhnya ALLAH Rabbul ‘Izzati telah menyediakan balasan bagi orang-orang yang senantiasa istiqomah dan teguh berjuang untuk diin Islam yang Mulia, yakni Jannatun Na’im. Allaahumma, berilah pertolongan kepada kami. Jadikanlah kami menjadi hamba-hamba yang layak mendapatkan kemenangan dari-Mu.
ALLAAHU AKBAR!!!                         

Minggu, 08 Juni 2014

Keep Fight!!!



Saat kau merasa hendak mundur dari medan perjuangan ini, ingatlah
wajah-wajah mereka. Apa yang ada di hatimu jika ketika mereka berkumpul
membicarakan perubahan, mengatur strategi perjuangan, dan saling
menguatkan dalam langkah menuju kemenangan, engkau tak lagi ada
di sana. Melainkan di tempat lain yang kau sadari tidaklah lebih baik?
MAKA BERTAHANLAH! ENGKAU TAK SENDIRI...

Sabtu, 07 Juni 2014



Kutemukan sebuah hati tengah gelisah oleh gulita yang meliputi jiwa.
Rasanya air mata ini terlalu angkuh untuk beranjak dari kelopaknya.
mengalirlah duhai bening, agar lega nafasku tuk kuhela. Agar hanyut segenap luka duka nestapaku.
Kulihat semu di bayangan yang mengikuti langkahku.
Jendela tua itu bisakah kau sedikit melonggar? Aku ingin belaian bayu tuk sejukkan gerah wajahku.
Seolah sudah sedemikian jauh perjalanan yang kutempuh, dan lengkaplah lelah gerogoti tiap inci jejakku, Menghapusnya, layaknya tak pernah ada.
Berkali-kali, silih berganti suka duka melalaikanku. Aku pernah meminta untuk duka yang tak ada habisnya, agar tak luput ingatku dari-Nya. Agar kudapati diriku seperti Ayyub dan sengsaranya.
“Tuhanku, biarlah nanah membusukkan sekujur tubuhku. Tapi kumohon sisakan hatiku untuk mengingat-Mu.”

Luka apa gerangan yang kuderita? Mengapa demikian perih kurasakan? Terlalu banyakkah nikmat yang telah kudustakan?
Sungguh aku seperti tak punya rupa untuk kembali. Sungguh aku seperti tak layak untuk bersimpuh memohon iba dan rasa kasih. Namun kemana lagi aku hendak berlari, jika bukan menuju-Mu?
Hening kisah abadi utusan-Mu, semakin sesakkan dadaku yang mengaku rindu.
Barkali-kali kuteriakkan cinta, kulantangkan asa untuk bersama dengannya.
Tapi kulihat diriku terlalu jauh tertinggal.
Saat masa seperti enggan bersamaku, aku kehilangan arah. Aku merasa semakin jauh dari-Mu…
Aku malu, mengapa aku kini? Banyak yang ku tahu tentang amanah-MU tapi aku sendiri tak amanah.
Begitu banyak teguranMU, yang ku yakini itu adalah wujud kasih-MU padaku.
Kini aku terpuruk, sungguh wahai ALLAH, aku merindukan-MU..
Aku masih di sini saat hujan menyapaku
Menahanku dalam kuyup yang membekukan hati
Rembesan pilu sampai di jiwa, menyibak luka yang kian menganga…
Aku rubuh.
Tak ada tiang untuk menyanggah. Aku lebur oleh dosa yang meninggalkan gelisah.
Aku hampir menyerah ketika Cinta datang menawarkan pundaknya untuk bersandar,
Aku hampir mati, hingga Cinta memelukku yang nyaris tenggelam dalam kubangan…
Tuhan…
Aku rapuh. Tak seberapa beban yang Kau beri, tapi aku rapuh. Aku takut semakin larut dalam durja.

Tangisku seperti angkuh untuk meratap.
Hatiku kurasakan kian mengeras.

Aku hampir lupa, bahwa aku dalam penjagaan-MU…
Kini tak ada temanku selain keberpura-puraan.
Meski ku tahu, aku tak pernah bisa membohongi jiwaku…
Sebilah nestapa menikamku.
Nuraniku seperti tak lagi peka. Aku layaknya patung yang tak berjiwa.
Aku seperti musafir yang kehilangan arah. Padahal peta ada di genggamku.
Kini, tak ada lagi di fikirku selain bagaimana kelak aku di hadap-Mu,,,
Saat mata, telinga, dan kulitku bersaksi atasku,
Hanya Rahmat-Mu duhai ALLAH
Yang kuharap sudi KAU beri untukku yang berbalut hina…

Ampuni aku…

*maryam nurjihad*