Over Populasi: Bencana?
Sejak 1960 secara global dibangun mitos di seputar masalah ledakan
jumlah penduduk. Dimitoskan bahwa angka pertumbuhan penduduk yang tinggi
dan besarnya jumlah penduduk telah menjadi bencana yang mengancam
peradaban umat manusia. United Nations Population Fund (UNFPA) pada
tanggal 8/7/2010 menginformasikan bahwa jumlah penduduk dunia sudah
mencapai 6,8 miliar orang dan akan naik dua kali lipat dalam 4 dekade
kedepan, yaitu tahun 2050, apabila tingkat pertumbuhan penduduk tidak
dikendalikan.
Para ahli Barat berperan besar dalam membangun mitos masalah over
populasi. Menurut John A. Lorraine (1967) over populasi pada abad ke-20
adalah salah satu bencana yang menimpa planet kita ini. Cicely D.
Williams (1966) mengatakan bahwa negara-negara di dunia yang kini
menderita akibat over populasi diharuskan untuk menghabiskan dana yang
banyak untuk mengendalikan kesuburan penduduknya. Menurut dia, cara
terbaik adalah dengan membuat program keluarga berencana (KB). Menurut
W. Parker Mauldin (1977) untuk mengatasi masalah over populasi
diperlukan program kependudukan yang diterapkan dalam rencana
pembangunan.
George B. Simmons (1977) dalam penelitiannya menemukan bahwa
pertumbuhan populasi adalah masalah dan terkait dengan perubahan
ekonomi. Menurut dia, pertumbuhan penduduk yang pesat di negeri miskin
di Afrika, Asia dan Amerika Latin membuat penyelesaian masalah ekonomi
jadi sulit dan lebih sulit lagi untuk memastikan pertumbuhan pendapatan
perkapita. Menurut dia pula, kemiskinan tidak akan bisa diatasi jika
populasi tidak dikendalikan. Karena itu, harapan terbaik adalah
menggabungkan reformasi sosial dan ekonomi dengan program pengendalian
populasi.
Lebih jauh lagi, Roy O. Greep (1998) menyatakan bahwa over populasi
merupakan akar masalah sosial dan lingkungan seperti kemiskinan,
kepadatan penduduk, kejahatan, terorisme, polusi air dan udara serta
hilangya ozon. Menurut dia, dengan berbagai alasan maka pertumbuhan
jumlah penduduk harus dikendalikan baik secara alami atau dengan campur
tangan manusia.
Namun, benarkah jumlah penduduk yang besar merupakan masalah atau
bahkan bencana? Memang, tidak banyak artikel akademik yang mendukung
pertumbuhan jumlah penduduk, apalagi mengatakan bahwa pertumbuhan
populasi yang tinggi justru mendukung ekonomi dan pamor negara! Namun,
cerita Cina, India dan Brazil menunjukkan bahwa populasi yang besar,
jika dokimbinasikan dengan kemampuan teknologi dan pengaturan logistik
yang tepat, akan membangun ekonomi yang besar dengan pasar lokal yang
mendukung bisnis untuk tumbuh, meningkatkan skala produksi ekonomi,
serta menaikkan potensi dan status negara.
Faktanya, Inggris sebagai negara adidaya pada abad ke-19, pertumbuhan
ekonominya didukung oleh teknologi, tenaga kerja murah, dan bahan
mentah dari daerah jajahannya serta perluasan pasar di dunia dengan
mengontrol lalu-lintas perdagangan dunia. Namun, sekarang Inggris
menduduki peringkat yang lebih rendah dibandingkan dengan adidaya lain
dalam berbagai aspek; bukan karena tidak menguasai teknologi, tetapi
justru karena pasar globalnya telah mengecil dan kapasitas memperoleh
bahan baku dan tenaga kerja murah telah berkurang—di satu sisi akibat
naiknya pengaruh Amerika dan di sisi lain karena berkurangnya populasi
Inggris dibandingkan dengan era kolonial dulu.
Lebih jauh lagi, kasus Amerika yang mengundang imigran asing dengan
menyelenggarakan undian memperoleh visa menunjukkan, bahwa pertumbuhan
populasi penduduk justru membantu dominasi ekonomi Amerika. Kalau
pertumbuhan populasi merupakan masalah, mengapa Eropa, Kanada,
Australia, dll justru mengkompensasi penurunan populasinya dengan
mengundang imigran?
Faktanya, besarnya populasi justru dan selalu menjadi faktor penting
bagi suatu negara untuk mempengaruhi kebijakan dunia, ekonomi dan
geopolitik. Tentu penurunan jumlah penduduk akan kontraproduktif bagi
bangsa manapun yang bermimpi akan menjelma menjadi kekuatan adidaya
dunia. Itulah sebabnya Jerman, Italia, Jepang dan Rusia sangat khawatir
dengan menurunnya populasi mereka. Bagi suatu negara ideologis, adalah
penting memiliki populasi besar yang menganutnya; lalu berikutnya
mengikuti, mempraktikkan, mengimplementasikan, mempropagandakan dan
menyebarluaskan sistem ideologi tersebut.
Tren Populasi di Dunia Islam
Dari sekian banyak berkah Allah SWT adalah besarnya populasi Muslim
dunia yang bisa menjadi potensi besar bagi bangkitnya negara adidaya
baru ke depan. Studi demografi komprehensif dari 200 negara menunjukkan
populasi Muslim dunia sebesar 1,57 miliar yang mewakili sekitar 23% dari
6,8 miliar penduduk dunia menurut estimasi di tahun 2009.1
Studi lanjutan menunjukkan bahwa dua pertiga dari Muslim dunia
tinggal di 10 negara, yaitu enam negara di Asia (Indonesia, Pakistan,
India, Bangladesh, Iran and Turki), tiga negara di Afrika Utara (Mesir,
Aljazair dan Maroko) dan satu negara di sub-sahara Afrika (Nigeria).
Secara umum populasi Muslim ada di lima benua, dimana 60% berada di
Asia dan 20% di Timur Tengah dan Afrika Utara. Negara di Timur Tengah
dan Afrika Utara banyak yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.
Lebih dari 300 juta Muslim (seperlima dari total penduduk Muslim
dunia) tinggal di negara dimana Muslim bukan mayoritas. Populasi
minoritas Muslim ini cukup besar. India yang dulu adalah bagian dari
dari Khilafah Islamiyah memiliki populasi Muslim ketiga terbesar di
dunia. Cina memiliki penduduk Muslim lebih banyak daripada Syria. Rusia
adalah rumah bagi populasi Muslim yang lebih banyak daripada gabungan
Yordania dan Libya. Dari sekitar 317 juta Muslim yang tinggal sebagai
minoritas, sekitar 240 juta (75 %) tinggal di lima negara: India (161
juta atau 13,4% dari populasi), Ethiopia (28 juta atau 34% dari
populasi), Cina (22 juta), Rusia (16 juta atau 11,7% dari populasi) dan
Tanzania (13 juta atau 30,2% dari populasi). Dari 10 negara terbesar
dengan jumlah Muslim minoritas adalah Eropa yaitu Rusia (16 juta) dan
Jerman (4 juta atau 5% dari populasi).
Sebaran Demografis Umat Islam
Sebaran demografi umat Islam menunjuk-kan, empat wilayah memiliki
populasi Muslim tertinggi. Ini bisa menjadi satu faktor yang menentukan
untuk mendorong lahirnya negara global jika wilayah itu punya aset
strategis lainnya seperti energi, industri, keuntungan strategis dan
yang terpenting adalah asimilasi ideologis. Dari sisi ‘kekuatan
populasi’, di antara empat wilayah itu, tiga pertama memiliki
kualifikasi menjadi titik awal kembalinya Khilafah Islamiyah:
1. Wilayah Asia Pasifik mewakili 62% penduduk Muslim dunia. Empat
negara (Indonesia, Bangladesh, Pakistan dan India) didiami sekitar 43,5%
dari Muslim dunia (690 juta). Dua negeri Muslim, yaitu Pakistan dan
Indonesia, memiliki kekuatan yang potensial. Pakistan adalah
satu-satunya negeri Muslim yang memiliki senjata nuklir. Berdirinya
Khilafah Islamiyah di Pakistan akan dengan cepat menyatukan wilayah
tetangga seperti Afganistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgistan dan
negeri-negeri Asia Tengah lainnya. Lebih jauh lagi, wilayah Khilafah
akan dengan cepat meluas ke Selatan dan Asia Tenggara melalui
Bangladesh, Indonesia dan Malaysia. Dengan demikian, wilayah yang kaya
sumberdaya, dengan posisi yang strategis, dan populasi yang besar ini
bisa menjadi awal mula kebangkitan umat di bawah satu negara Khilafah
Islamiyah.
2. Dunia Arab, yakni Timur Tengah dan Afrika Utara, didiami oleh
sekitar 315 juta Muslim atau 20% dari populasi Muslim dunia. Lebih dari
separuh negeri-negeri di Timur Tengah-Afrika Utara mayoritas penduduknya
adalah Muslim, sekitar 95% atau lebih, yaitu: Aljazair (34 juta); Mesir
(79 juta); Irak (30 juta); Yordania, Kuwait, Libya, Maroko (32 juta);
Palestina, Arab Saudi (25 juta); Tunisia (10 juta); Sahara Barat dan
Yaman (23 juta). Negeri lainnya, prosentase Muslimnya lebih kecil, yaitu
Suriah (92%, 20 juta), Oman (88%), Bahrain (81%), Qatar (78%), Uni
Emirat Arab (76%) dan Sudan (71%, 30 juta). Tentu saja dengan potensi
SDA yang besar, posisi strategis, asimilasi ideologis, dan besarnya
populasi Muslim yang menguasai bahasa Arab, wilayah ini ideal bagi
bangkitnya kembali negara Khilafah Islamiyah. Jadi, tidak aneh jika
laporan the Project for the New American Century (2000)” berkesimpulan
bahwa, “Amerika tidak boleh kehilangan kontrol terhadap wilayah Timur
Tengah dan Teluk Persia.”
3. Asia Tengah dan Barat, meliputi Afganistan, Armenia, Azerbaijan,
Siprus, Iran, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Turki, Turkmenistan dan
Uzbekistan; mayoritas penduduknya beragama Islam kecuali Siprus. Total
populasi Muslim wilayah ini 380 juta atau 24% dari populasi Muslim
dunia. Wilayah yang sangat volatil ini menurut Ariel Cohen (2003)
menyimpan ancaman keamanan terbesar bagi Amerika. Ariel Cohen secara
spesifik menyebut Hizbut Tahrir, sebuah partai politik Islam global
non-kekerasan, telah membentuk opini publik tentang Khilafah Islamiyah
di wilayah ini. Elizabeth Wishnick (2004) dengan jelas menyatakan,
militer AS harus bisa menghadapi ancaman apapun dari kebangkitan
Khilafah Islamiyah di Asia Tengah. Ia menyarankan agar AS memiliki
pangkalan militer yang besar terutama di wilayah Uzbekistan, Kirgistan
dan Tajikistan. Harian People’s Daily (24/9/2010), telah membongkar
rencana Amerika untuk memperluas pangkalan militernya di Baghram,
Kandahar dan pangkalan udara di Mazar-E-Sharif di Afganistan dengan
biaya 300 juta dolar untuk menyiapkan diri menghadapi kemungkinan
konflik global pada masa depan.
4. Sub-Sahara Afrika, didiami oleh sekitar 241 juta Muslim atau
sekitar 15% dari Muslim dunia. Nigeria merupakan negeri dengan penduduk
Muslim terbesar (78 juta jiwa atau 50% dari total penduduk Nigeria) di
wilayah ini.
Saat ini Dunia Islam memang terpecah menjadi lebih dari 57 negara
kecil. Itu karena kolusi para penguasa negeri Islam dengan imperialis
Barat. Namun, agresi budaya oleh Barat telah gagal menjauhkan Islam dari
umat Muslim. Penguasa di negeri Muslim pun tidak bisa melakukannya.
Betapapun represi politik mereka lancarkan terhadap para pengemban
dakwah, seruan persatuan umat dan penghapusan batas-batas kolonial makin
nyaring terdengar. Upaya Barat agar umat Islam tetap terpecah-belah
akan diterjang oleh gelombang pergerakan umat saat ini. Ketika Islam
kembali dipraktikan dalam kehidupan, maka hanya dalam sekejap mata saja
penyatuan 1,56 miliar umat Islam akan terwujud dalam satu wilayah besar.
Dengan sumberdaya manusia yang demikian besar yang memiliki keyakinan
yang homogen, Dunia Islam menunjukkan realita yang tak bisa dipungkiri
untuk menjadi negara global yang terkemuka di dunia. [Al-Waie No 125
Januari 2011]
Reposted from:
http://qousa.wordpress.com/2011/01/19/potensi-demografi-muslim-bagi-kebangkitan-kembali-khilafah/